Teras Binadow
1/14/26, 1/14/2026 WIB
Last Updated 2026-01-14T12:19:04Z
refleksi

Ketergantungan LPG dan Lunturnya Kearifan Lokal

Gas LPG 3 Kg (sumber : pinterest)

Kelangkaan gas LPG 3 kilogram yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk Bolaang Mongondow Utara, memicu berbagai keluhan masyarakat. Media sosial dipenuhi ungkapan keresahan, seolah aktivitas dapur lumpuh total akibat sulitnya memperoleh tabung gas bersubsidi tersebut. Fenomena ini mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap satu sumber energi, tanpa kesiapan menghadapi situasi darurat atau alternatif yang tersedia.


Padahal, secara geografis dan historis, Bolaang Mongondow Utara merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Sebelum LPG menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga, masyarakat telah lama mengandalkan tungku tradisional dengan bahan bakar kayu. Cara tersebut terbukti mampu menopang kehidupan sehari-hari tanpa menimbulkan persoalan berarti. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata kelangkaan energi, melainkan perubahan pola konsumsi dan pergeseran sikap masyarakat terhadap kearifan lokal.


Modernisasi memang membawa kemudahan, namun ketergantungan yang berlebihan justru melemahkan daya adaptasi. Dalam konteks kelangkaan LPG, masyarakat dihadapkan pada pilihan untuk menyesuaikan diri atau tetap bertahan pada standar kenyamanan yang telah dibangun. Di banyak kasus, gengsi dan keengganan untuk kembali menggunakan cara tradisional menjadi penghambat utama, meskipun sumber daya alternatif masih tersedia.


Di wilayah seperti Bolaang Mongondow Utara, sulit untuk menyatakan bahwa kayu bakar sepenuhnya tidak dapat diperoleh. Yang semakin langka justru kesediaan untuk menurunkan ego dan menerima bahwa kondisi tertentu menuntut penyesuaian, bukan sekadar keluhan. Ketahanan sosial tidak hanya diukur dari ketersediaan fasilitas modern, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkan potensi alam secara bijak.


Situasi ini seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, baik bagi masyarakat maupun pemangku kebijakan. Diversifikasi sumber energi, edukasi tentang ketahanan rumah tangga, serta pelestarian kearifan lokal perlu kembali mendapat perhatian. Dengan demikian, masyarakat tidak terjebak dalam ketergantungan tunggal, melainkan memiliki kesiapan menghadapi berbagai kondisi tanpa kehilangan martabat dan kemandirian.***


Penulis : Herman Dunggio