![]() |
| Ilustrasi (sumber : pinterest) |
Ada rasa sakit yang tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, di rute yang sama, di jalan yang dulu sering kita lewati bersama—dengan tawa, rencana, dan janji-janji kecil yang terasa aman.
Kita patah hati.
Bukan karena cinta yang berakhir biasa, tapi karena pengkhianatan.
Yang menyakitkan bukan hanya perpisahan, melainkan kenyataan bahwa orang yang paling kita percaya justru memilih melukai dengan sadar. Kita tidak diselingkuhi oleh orang asing, tapi oleh harapan kita sendiri—yang terlalu yakin, terlalu percaya, terlalu tulus.
Lucunya, kita masih melewati rute yang sama.
Tempat yang sama.
Kota yang sama.
Kenangan yang sama.
Bedanya, sekarang kita berjalan sendiri.
Ada malam-malam di mana dada terasa sesak, bukan karena ingin kembali, tapi karena harus menerima bahwa tidak semua yang kita jaga akan menjaga kita kembali. Dan di situlah kita belajar satu hal penting: kedewasaan bukan tentang tidak merasa sakit, tapi tentang bagaimana kita menyikapi rasa sakit itu.
Kita bisa saja marah.
Kita bisa saja membuka aib.
Kita bisa saja membalas dengan cara yang sama.
Tapi kita memilih diam.
Bukan karena lemah—melainkan karena kita tahu, tidak semua luka perlu dibalas dengan luka baru. Ada luka yang cukup dijadikan pelajaran.
Pengkhianatan mengajarkan kita bahwa:
• Tidak semua orang pantas diberi akses penuh pada hati.
• Ketulusan bukan jaminan akan diperlakukan dengan jujur.
• Dan kehilangan seseorang kadang justru menyelamatkan kita dari kehilangan diri sendiri.
Kita tidak membenci.
Kita juga tidak mendoakan yang buruk.
Kita hanya menarik diri, menata ulang arah, dan melanjutkan hidup dengan versi diri yang lebih waspada, lebih tenang, dan lebih dewasa.
Jika suatu hari kita kembali jatuh cinta, kita akan tetap memberi sepenuh hati—tapi tidak lagi membutakan logika. Karena cinta yang sehat tidak meminta kita mengorbankan harga diri.
Dan untuk kamu yang mungkin membaca tulisan ini dengan luka yang sama:
Patah hati bukan akhir dari perjalanan. Kadang ia hanya tanda bahwa kita harus berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan langkah—di rute yang sama, tapi dengan pemahaman yang jauh lebih matang.
Kita terluka.
Tapi kita tidak hancur.
Kita kecewa.
Namun kita tetap memilih tumbuh.
Karena menjadi dewasa berarti tahu kapan harus melepaskan, tanpa kehilangan nilai diri.
— Ditulis oleh Herman Dunggio, penulis novel “Hanya Lelaki Biasa” yang bukunya tidak untuk dibaca siapapun.

