Eman Dunggio
5/23/26, 5/23/2026 WIB
Last Updated 2026-05-23T10:46:41Z
refleksi

Membangun Daerah, Memuliakan Generasi: "Refleksi 19 Tahun Bolaang Mongondow Utara dari Perspektif Olahraga dan Pembangunan"

 

Foto: Herman Dunggio, pemuda Bolaang Mongondow Utara yang aktif di bidang olahraga sebagai pelatih cabang bela diri Kempo serta aktif dalam kepenulisan blog dan refleksi sosial kemasyarakatan. Potret ini menjadi bagian dari catatan reflektif 19 tahun Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tentang olahraga, pembangunan, dan masa depan generasi daerah.


"Membangun Daerah, Memuliakan Generasi: Refleksi 19 Tahun Bolaang Mongondow Utara dari Perspektif Olahraga dan Pembangunan"


Oleh: Herman Dunggio


Sembilan belas tahun berdirinya Kabupaten Bolaang Mongondow Utara bukanlah sekadar penanda administratif tentang usia sebuah daerah otonom. Ia merupakan fragmen sejarah panjang tentang harapan, perjuangan, identitas, dan ikhtiar kolektif masyarakat dalam membangun peradaban di tanah sendiri. Di usia yang ke-19 ini, Bolaang Mongondow Utara sedang berdiri di antara dua realitas: antara capaian yang patut diapresiasi dan pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.


Sebagai seorang pemuda daerah, saya memahami bahwa suara saya mungkin tidak memiliki bobot politik ataupun posisi strategis dalam lingkaran kekuasaan. Namun setidaknya, saya memiliki satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari daerah ini: rasa memiliki. Sebab kecintaan terhadap tanah kelahiran tidak selalu diwujudkan melalui jabatan, melainkan keberanian untuk menyampaikan kegelisahan dengan kejujuran intelektual dan tanggung jawab moral.


Dalam konteks pembangunan daerah, kita perlu memahami bahwa pembangunan sejatinya bukan hanya persoalan fisik dan statistik pertumbuhan ekonomi. Pembangunan adalah proses memanusiakan manusia. Ia bukan sekadar membangun jalan, gedung, atau infrastruktur, melainkan membangun kualitas hidup, kesadaran sosial, dan martabat masyarakatnya. Sebab sebuah daerah tidak pernah benar-benar maju apabila rakyat kecil masih hidup dalam ketidakpastian.


Bolaang Mongondow Utara adalah daerah yang kaya akan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, serta nilai-nilai kultural yang hidup di tengah masyarakatnya. Akan tetapi, kekayaan tersebut akan kehilangan makna apabila tidak dikelola melalui paradigma pembangunan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.


Pada momentum HUT ke-19 ini, saya ingin menyampaikan refleksi kepada Bapak Bupati, Bapak Wakil Bupati, serta seluruh pemangku kebijakan Pemerintah Daerah Bolaang Mongondow Utara, bahwa masa depan daerah ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang dimiliki, tetapi oleh sejauh mana keberanian politik pemerintah dalam menghadirkan pembangunan yang substansial dan inklusif.


Olahraga misalnya, selama ini sering ditempatkan hanya sebagai aktivitas seremonial dan pelengkap agenda tahunan. Padahal olahraga merupakan instrumen strategis dalam membangun karakter generasi muda, memperkuat disiplin sosial, dan menciptakan ekosistem prestasi yang sehat. Dalam perspektif yang lebih luas, olahraga adalah investasi peradaban.


Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak atlet dan pelatih di Bolaang Mongondow Utara masih berjuang dalam keterbatasan fasilitas, minimnya pembinaan, serta kurangnya perhatian yang berkesinambungan. Kita terlalu sering merayakan kemenangan di podium, tetapi lupa menghargai proses panjang yang berlangsung dalam kesederhanaan dan keterbatasan.


Banyak pemuda di Bolaang Mongondow Utara memiliki bakat luar biasa. Mereka tumbuh dengan potensi yang besar dalam sepak bola, atletik, voli, seni bela diri, dan berbagai cabang olahraga lainnya. Namun potensi tersebut sering kali berjalan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, tanpa pembinaan yang berkelanjutan, dan tanpa perhatian serius dari arah kebijakan pembangunan daerah.


Daerah ini memiliki banyak anak muda berbakat. Mereka tumbuh dari desa-desa, berlatih di lapangan sederhana, bahkan kadang tanpa fasilitas yang layak. Namun semangat mereka tetap hidup. Mereka membawa nama daerah dengan kebanggaan, meskipun sering kali daerah belum sepenuhnya hadir untuk menopang perjuangan mereka.


Padahal olahraga memiliki dimensi sosial yang sangat penting. Ia mampu menjadi ruang transformasi bagi generasi muda agar tidak terjerumus dalam krisis moral, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, maupun budaya instan yang merusak masa depan. Oleh sebab itu, pembangunan sektor olahraga harus diposisikan sebagai bagian integral dari pembangunan sumber daya manusia.


Di sisi lain, pembangunan infrastruktur juga harus dibaca bukan semata sebagai proyek pembangunan fisik, melainkan sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan. Infrastruktur yang baik bukan hanya mempercepat mobilitas, tetapi juga memperluas akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat.


Masih terdapat desa-desa yang menghadapi persoalan akses jalan, distribusi hasil pertanian, hingga keterbatasan fasilitas dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh substansi keadilan sosial. Sebab hakikat pembangunan adalah menghadirkan negara sedekat mungkin dengan kebutuhan rakyatnya.


Petani dan nelayan sebagai fondasi ekonomi masyarakat pesisir dan pedesaan juga perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius. Mereka adalah kelompok sosial yang sesungguhnya menjaga denyut kehidupan daerah. Namun ironisnya, mereka sering kali menjadi pihak yang paling rentan terhadap ketidakstabilan ekonomi.


Petani hidup dalam ketidakpastian harga hasil panen, keterbatasan pupuk, minimnya akses teknologi pertanian, serta lemahnya perlindungan pasar. Nelayan pun menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks: cuaca ekstrem, keterbatasan alat tangkap, persoalan distribusi BBM, hingga ketimpangan ekonomi pesisir.


Padahal jika sektor pertanian dan kelautan dikelola dengan visi yang progresif, maka Bolaang Mongondow Utara dapat menjadi daerah yang mandiri secara pangan dan kuat secara ekonomi kerakyatan. Sebab kekuatan suatu daerah tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi dari kemampuan negara melindungi kelompok masyarakat produktif yang selama ini menopang kehidupan sosial-ekonomi daerah.


Demikian pula dengan sektor pertambangan. Kita harus mengakui bahwa pertambangan memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan terhadap daerah. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi tidak boleh dibangun di atas kerusakan ekologis dan ketimpangan sosial. Pembangunan yang eksploitatif tanpa etika lingkungan hanya akan melahirkan kemajuan semu.


Alam bukan sekadar objek eksploitasi ekonomi, melainkan ruang hidup generasi mendatang. Sungai, hutan, gunung, dan laut bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga titipan masa depan yang harus dijaga dengan kesadaran ekologis dan tanggung jawab moral.


Karena itu, pemerintah daerah perlu menghadirkan kebijakan pertambangan yang tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan masyarakat sekitar, dan kepastian hukum yang adil. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.


Momentum 19 tahun ini seharusnya menjadi ruang evaluasi kolektif, bahwa pembangunan daerah harus bergerak melampaui orientasi administratif menuju pembangunan yang berorientasi pada kualitas manusia. Sebab keberhasilan sebuah daerah tidak cukup diukur melalui laporan pertumbuhan ekonomi atau capaian proyek pembangunan, tetapi melalui sejauh mana rakyat merasa dihargai, dilibatkan, dan disejahterakan.


Saya percaya bahwa setiap pemimpin memiliki niat baik untuk membangun daerah ini. Namun sejarah akan selalu mencatat, bahwa kepemimpinan yang besar bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan keberanian untuk mendengar suara-suara kecil yang sering diabaikan.


Di usia ke-19 ini, Bolaang Mongondow Utara membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Daerah ini membutuhkan visi peradaban. Sebuah arah pembangunan yang tidak hanya mengejar kemajuan material, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial, keberpihakan kepada masyarakat kecil, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.


Sebab pada akhirnya, daerah yang maju bukanlah daerah yang paling ramai dipuji, melainkan daerah yang mampu memastikan bahwa tidak ada rakyatnya yang merasa tertinggal di tanah kelahirannya sendiri.


"Selamat Hari Ulang Tahun ke-19 tahun Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Semoga terus tumbuh menjadi daerah yang bukan hanya maju secara pembangunan, tetapi juga matang secara moral, kuat secara sosial, dan bermartabat dalam memuliakan rakyatnya."***